WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI


Wacana Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, Persuasi, dan Narasi 

Sebagai satuan bahasa dalam komunikasi, wacana dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan komunikasi. Setiap jenis wacana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Namun, kenyatannya kelima jenis wacana itu tidak mungkin dipisahkan secara murni. Misalnya, mungkin dalam wacana eksposisi terdapat bentuk deskripsi. Berikut ini dijelaskan secara ringkas klasifikasi wacana. Menurut Rani (2006:37-38) wacana deskripsi merupakan jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar dapat membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal. Aspek kejiwaan yang dapat mencerna wacana tersebut adalah emosi. Hanya melalui emosi, seseorang dapat membentuk citra atau imajinasi tentang sesuatu. Oleh sebab itu, ciri khas wacana deskripsi ditandai dengan penggunaan kata-kata atau ungkapan yang bersifat deskriptif, seperti rambutnya ikal, hidungnya mancung, dan matanya biru. Dalam wacana ini biasnya tidak digunakan kata-kata yang bersifat evaluative yang terlalu abstrak seperti, tinggi sekali, berat badan tidak seimbang, matanya indah, dan sebagainya.
Sedangkan menurut Leech, 1974 (Khushartanti, 2009:94-95) wacana deskriptif adalah wacana yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Wacana deskripsi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca atau merasakan hal yang dideskripsikan. Oleh sebab itu deskripsi yang baik adalah deskripsi yang dilengkapi dengan hal-hal yang dapat merangsang panca indra. Wacana deskriptif dicirikan oleh adanya detail suatu hal, seperti pada profil. Contoh : seperti keadaan banjir, suasana dipasar dan sebagainya. Jadi, dapat disimpulkan wacana deskripsi adalah wacana yang ditujukan pada penerima pesan tentang gambaran sesuatu dengan jelas dan terperinci.
Menurut Leech, 1974 (Khushartanti, 2009:94-95) wacana eksposisi adalah wacana yang berisi tentang penjelasan suatu hal agar pembaca dapat memahami dengan baik dan jelas tentang suatu informasi. Wacana eksposisi dicirikan oleh kuatnya paparan informasi, seperti pada karangan khas (feature). Sedangkan menurut Rani (2006:38-39) wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh penerima. Oleh sebab itu, untuk memahami wacana eksposisi, diperlukan proses berpikir. Jadi, dapat disimpulkan wacana eksposisi adalah wacana yang menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya dengan baik.
Menurut Rani (2006:39) wacana argumentasi termasuk salah satu bentuk wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pertimbangan logis maupun emosional (Rottenberg, 1988: 9). Senada dengan itu, Salmon (1984: 8) memberikan definisi argumentasi sebagai seperangkat kalimat yang disusun sedemikian rupa sehingga beberapa kalimat berfungsi sebagai bukti-bukti yang mendukung kalimat lain yang terdapat dalam perangkat itu. Sementara menurut Leech, 1974 (Khushartanti, 2009:94-95) wacana eksposisi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi pembaca agar dapat menerima ide, pendapat, atau pernyataan yang dikemukakan penulisnya. Untuk memperkuat ide atau pendapatnya, penulis wacana argumentasi menyertakan data-data pendukung. Tujuannya, pembaca menjadi yakin atas kebenaran yang disampaikan penulis. Wacana argumentasi dicirikan oleh kuatnya argumentasi karena didukung oleh eksplorasi bukti dan prosedur metodologis, seperti pada tesis dan disertasi. Jadi, dapat disimpulkan wacana argumentasi adalah wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pertimbangan logis maupun emosional.
Menurut Leech, 1974 (Khushartanti, 2009:95) wacana persuasi adalah wacana yang berisi imbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Oleh karena itu biasanya disertai penjelasan dan fakta-fakta sehingga meyakinkan dan dapat mempengaruhi pembaca. Wacana persuasi dicirikan oleh menonjolnya rangsangan dan bujukan dari penutur atau penulis agar mitra tutur atau pembaca mengikuti apa yang diharapkan penutur atau penulis seperti pada iklan.
Sedangkan menurut Rani (2006:42) wacana persuasi merupakan wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penuturnya. Untuk mempengaruhi tersebut, biasanya digunakan segala upaya yang memungkinkan mitra tutur terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut, wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Contoh jenis wacana persuasi yang banyak ditemui adalah kampanye dan iklan. Iklan merupakan salah satu jenis penggunaan bahasa yang bertujuan mempengaruhi dan menyerang calon konsumen agar menggunakan suatu jasa atau layanan produk yang diiklankan. Jadi, dapat disimpulkan wacana persuasi adalah wacana yang berisi ajakan kepada pembaca untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya.
Menurut Leech, 1974 (Khushartanti, 2009:95) wacana narasi adalah wacana yang salah satu jenis wacana yang menceritakan / mengisahkan sesuatu peristiwa secara berurutan berdasarkan urutan kejadiannya. Dengan demikian wacana jenis ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi seseorang melainkan hanya menceritakan sesuatu kejadian yang telah disaksikan, dialamin dan didengar oleh pengarang (penulisnya). Narasi dapat bersifat fakta atau fiksi (cerita rekaan). Narasi yang bersifat fakta, antara lain biografi dan autobiografi, sedangkan yang berupa fiksi diantaranya cerpen dan novel. Wacana narasi dicirikan oleh adanya alur, peristiwa, dan tokoh.
Sedangkan menurut Rani (2006:45-46) wacana persuasi merupakan wacana suatu jenis wacana yang brisi cerita. Dalam narasi terdapat unsure-unsur cerita yang penting misalnya unsure waktu, pelaku dan peristiwa. Dalam wacana narasi harus ada unsure waktu, bahkan unsure pergeseran waktu itu sangat penting. Unsure pelaku atau tokoh merupakan pokok yang dibicarakan, sedang unsure peristiwa adalah hal-hal yang dialami oleh sang pelaku. Jadi, dapat disimpulkan wacana narasi adalah wacana yang mengisahkan sesuatu peristiwa secara berurutan berdasarkan urutan kejadiannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRASARAT WACANA