HAKIKAT WACANA DALAM LINGUISTIK



Hakikat dan Kedudukan Wacana dalam Ilmu Linguistik

Manusia adalah makhluk sosial yang berbudaya. Hubungan antar manusia terjalin dengan adanya komunikasi. Manusia berkomunikasi dengan bahasa. Orang berbahasa mengeluarkan bunyi-bunyi. Bunyi-bunyi itu merupakan lambang makna yang dapat dimengerti oleh penutur dan mitra tuturnya. Dengan bahasa itulah semua manusia dapat mengenal dirinya sendiri, orang lain, dan alam sekitarnya. Tentu bahasa tidak begitu saja muncul dengan sendirinya. Ada ilmu yang menjadi pedoman saat mempelajari tentang bahasa. Ilmu itu adalah linguistik. Di dalam ilmu linguistik, bahasa dipelajari mulai dari unsur yang paling kecil hingga unsur yang paling besar. Sehingga dalam ilmu linguistik terdapat cabang-cabang ilmu seperti, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Cabang-cabang ilmu linguistik tersebut mengkaji mengenai proses pembentukan sebuah kalimat yang diawali dari unsur terkecil yaitu fonem hingga unsur terbesarnya yaitu kalimat yang memiliki makna. Akan tetapi, kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Kalimat bukanlah unsur bahasa yang terbesar atau tertinggi. Karena ternyata masih ada unsur yang paling besar yaitu, wacana. Tulisan ini berusaha memberikan gambaran mengapa wacana dinyatakan sebagai unsur bahasa yang paling besar. Seperti apa pula kedudukan wacana dalam ilmu linguistik serta contoh-contohnya.
Tarigan (2009:27) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Itu artinya dalam wacana mencakup fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat serta makna. Makna yang dimaksud yaitu bisa berupa makna secara tersirat dan juga makna secara tersurat. Selain itu, dikatakan wacana jika mengandung informasi yang jelas, ada tema adn topik yang dibahas, ada pokok pikiran dan gagasan yang dikemukakan, serta ada maksud dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca ataupun pendengar. Jika pengertian wacana seperti yang sudah dijelaskan tadi maka, kedudukan wacana merupakan satuan bahasa yang paling tinggi dan besar dibandingkan cabang ilmu linguistik lainnya dianggap benar.
Misalnya, unsur pembentuk bahasa yang paling kecil adalah bunyi. Kajian tentang bunyi-bunyi ujar tersebut dikaji dalam cabang ilmu linguistik yang disebut fonologi (Muslich, 2011:1). Setelah itu, ada cabang ilmu morfologi. Morfologi adalah ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata (Chaer, 2008:3). Sebuah kata tidak bisa langsung dikatakan sebagai kata karena setiap kata ada bentuk dan juga proses pembentukannya. Ketika sudah mempelajari tentang bunyi dan pembentukan kata, ilmu selanjutnya yang ada dalam ilmu linguistik yaitu, sintaksis. Menurut Ramlan (2005:18) mengemukakan bahwa sintaksis ialah bagian atau cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk frasa, klausa dan kalimat. Di mana sintaksis menjelaskan fungsi dan juga makna dari setiap frasa, klausa dan kalimat. Sebagai fungsinya setiap frasa, klausa dan kalimat dapat menduduki fungsi sebagai S (Subjek) dengan makna ‘pelaku’, P (Predikat) dengan makna ‘perbuatan’, O (Objek) dengan makna ‘yang dikenai pekerjaan’ dan KET (Keterangan) dengan makna ‘tempat atau waktu’. Untuk cabang ilmu linguistik yang selanjutnya adalah semantik. Semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti (Chaer, 2013:2).
Dari paparan yang sudah dijelaskan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap karena wacana terbentuk dari susunan antara fonem, morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat yang memiliki makna atau arti. Sehingga kedudukan wacana dalam ilmu linguistik adalah tertinggi dan terbesar dibandingkan dengan cabang ilmu linguistik lainnya.

Contoh:
1. Sangat butuh uang tunai segera. Sebidang tanah, dengan luas 30 x 20 m persegi. Minat hubungi 085 607 605 204.
2. Pagi ini jalur dari arah Gientcang ke selatan tidak boleh dilalui. Banyak siswa berlalu lalang pergi dan pulang sekolah. Sebagian wilayah Mojoagung terendam banjir.

Contoh satu adalah contoh wacana yang baik, karena kalimatnya tersusun rapi, informasinya jelas, dari satu kalimat ke kalimat yang lain saling berhubungan.
Contoh dua adalah contoh wacana yang tidak baik, karena terpisah-pisah maknanya sehingga tidak membentuk satu kesatuan yang utuh. Sehingga antara kalimat satu dengan lainnya tidak saling berhubungan.

Daftar Pustaka:
Chaer, Abdul. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta:
Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2013. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2011. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Ramlan. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Tarigan, Henry G. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

PRASARAT WACANA