KAJIAN WACANA 2



Teori Pragmatik, Analisis Percakapan & Analisis Variasi

Dalam pembahasan yang sebelumnya sudah mengkaji mengenai tiga teori dari enam teori kajian wacana. Kali ini akan dibahas tiga teori lagi yaitu, teori pragmatik, analisis percakapan dan analisis variasi. Tujuan dari pembahasan teori tersebut adalah agar lebih memperjelas pemahaman ketika menggunakan teori-teori tersebut sebagai bahan penelitian dalam kajian wacana.
Pragmatik adalah ancangan wacana yang menguraikan tiga konsep (makna, konteks, dan komunikasi). Pragmatik mengacu pada kajian penggunaan bahasa yang berdasarkan pada konteks. Objek kajian wacana dengan pendekatan ini adalah aspek pragmatik yang terdapat dalam sebuah wacana. Bidang kajian yang berkenaan dengan penggunaan bahasa pada konteks disebut bidang kajian pragmatic adalah deiksis, implikatur percakapan, praanggapan, dan tindak ujaran. Jadi, dalam teori pragmatik ini secara garis besar membahas mengenai makna tuturan secara tersirat yang memiliki kaitan dengan interlinguistik dan ekstralinguistik serta berhubungan dengan konteks suatu kalimat.
Selanjutnya ada teori analisis percakapan. Teori analisis percakapan ini menyerupai sosiolinguistik interaksional yang menitik beratkan problem aturan sosial, dan bagaimana bahasa bisa menciptakan dan diciptakan oleh konteks sosial. Analisis percakapan juga mirip dengan etnografi komunikasi yang memerhatikan tentang pengetahuan manusia. Analisis percakpan mendekati wacana dengan memepertimngkan cara partisispan dalam pembicaraan yang membangun solusi sitematis pada masalah organisasional percakan secara berulang-ulang. Keberadaan masalah itu dan keutuhan untuk menemukan solusi.
Sementara analisis variasi merupakan sebuah teori yang berfokus pada pembatasan sosial dan varian linguistik secara semantik, ancangan tersebut juga diperluas ke arah teks. Dalam hal ini, terdapat dua level analisis yang dilakukan, yaitu membandingkan tipe teks dan menganalisis variasi di dalam teks. Dalam analisis variasi juga berkaiatan dengan interaksional dan situasional dalam teks, mengedepankan “faktor” bagaimana wujud suatu teks terkait secara linguistik dan sosial. Walaupun analisis tersebut secara garis besar berfokus pada pembatasan-pembatasan sosial dan linguistik namun, secara semantik ancangan tersebut juga diperluas ke arah teks. Karena unit dasar narasi adalah peristiwa dan unit dasar daftar adalah kesatuan. Informasi utama daftar adalah deskriftif (Deborah Schiffrin 2007: 426).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pragmatik membahas mengenai makna tuturan secara tersirat yang memiliki kaitan dengan interlinguistik dan ekstralinguistik serta berhubungan dengan konteks suatu kalimat. Analisis percakapan mendekati wacana dengan memepertimngkan cara partisipan dalam pembicaraan yang membangun solusi. Dalam analisis variasi membandingkan tipe teks dan menganalisis variasi di dalam teks yang mengacu pada kajian semantik.

Contoh:
1. Karena pintar, Danang disenangi teman-temannya.
2. Orang yang rajin disenangi teman.
3. Guru sangat menyukai murid yang rajin dan pandai.
Dari tiga contoh diatas dapat digambarkan bahwa kata pintar dalam kalimat (1) bermakna ‘pandai atau cakap’. Kata rajin dalam kalimat (2) bermakna ‘suka bekerja atau suka belajar’. Sedangkan kata menyukai dalam kalimat (3) bermakna ‘menyayangi’. Namun, kalimat-kalimat tersebut dapat memiliki makna yang berbeda jika digunakan dalam konteks penuturan yang berbeda.

Daftar Pustaka:
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

PRASARAT WACANA