TEKS, KO-TEKS DAN KONTEKS
Teks, Ko-teks, dan Konteks
Dalam kegiatan sehari-hari tidak lepas dari unsur-unsur wacana yang diantaranya terdiri dari teks, ko-teks, dan konteks. Namun, tidak semua jenis teks mengandung sebuah wacana. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa setiap wacana dapat diartikan sebagai suatu teks. Sedangkan untuk unsur yang lain seperti ko-teks dan konteks pemahamannya sama dengan kohesi dan koherensi. Tulisan ini akan mengupas lebih lanjut mengenai hubungan teks, ko-teks, dan konteks yang merupakan unsur pembentuk dari sebuah wacana.
Teks adalah suatu ujaran yang dihasilkan berdasarkan tindak tutur berupa kalimat, kata dan lainya dalam satuan bahasa lengkap yang bersifat abstrak (Kridalaksana, 2011:238). Teks dapat berupa lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, teks memiliki kesatuan bentuk baik melalui lisan dan tulisan sifatnya sama, yakni untuk menyampaikan pesan kepada pembaca atau pendengar. Biasanya teks diwujudkan dalam sebuah percapakan ataupun tulisan karangan bebas yang ada pada sebuah novel, buku bacaan, puisi, koran, majalah, papan pengumuman, baleho, poster, dan juga pamflet. Teks dalam sebuah wacana dapat menjelaskan keterkaitan antara ko-teks dan juga konteks. Karena ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dalam sebuah wacana. Ketiga unsur itu dapat menjelaskan sebuah makna ujaran yang berupa lisan dan tulisan.
Menurut pendapat Kridalaksana (2011:137), ko-teks adalah unsur-unsur yang mendahuli atau yang mengikuti unsur lain dalam sebuah wacana. Ko-teks dapat berupa kalimat atau paragraf yang tersusun secara lengkap. Tetapi, ko-teks juga dapat berupa sebuah frasa atau kata. Ko-teks memiliki hubungan timbal balik atau dapat dikatakan suatu ujaran yang bersifat dua arah. Maksudnya adalah setiap wacana baik lisan maupun tulisan yang ingin disampaikan oleh seseorang jika ada hubungan timbal balik seperti stimulus dan respon maka kalimat tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah ko-teks. Hubungan timbal balik tersebut juga menandakan adanya interaksi secara langsung antara penutur dan juga mitra tutur. Akan tetapi, walaupun timbal balik tersebut tidak berupa tulisan tapi langsung berupa tindakan secara nyata maka, hal tersebut tetap dapat diartikan sebagai ko-teks. Ko-teks juga dapat berupa kohesi dan koherensi yang kalimat-kalimatnya memiliki kesejajaran.
Sementara, konteks merupakan aspek lingkungan yang secara fisik atau sosial kait mengkait dalam suatu ujaran atau teks yang muncul (Kridalaksana, 2011:134). Konteks juga dapat menjadi suatu alasan untuk memaknai sebuah teks dan ko-teks ketika tuturan itu diucapkan. Sebuah konteks dapat meliputi, sender (pembicara), participan (mitra pembicara), end (tujuan atau maksud pembicaraan), act (tindakan), key (kata kunci), instrument (alat dapat berupa lisan maupun tulisan), norma (suasana pembicaraan bisa suasana serius atau santai), dan genre (jenis pembicaraan yaitu, formal atau non formal). Suatu wacana harus ada keterkaitan unsur-unsur dalam satu konteks agar dapat dipahami secara bersamaan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa teks adalah suatu ujaran yang dihasilkan berdasarkan tindak tutur berupa kalimat, kata dan lainya dalam satuan bahasa lengkap yang bersifat abstrak. Ko-teks adalah unsur-unsur yang mendahuli atau yang mengikuti unsur lain dalam sebuah wacana. Konteks adalah aspek lingkungan yang secara fisik atau sosial kait mengkait dalam suatu ujaran atau teks yang muncul. Ketiga unsur tesebut tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sebuah wacana. Karena ketiganya saling melengkapi sehingga dapat terbentuk sebuah wacana yang baik.
Contoh:
Teks
|
Ko-teks
|
Kontek
|
Hati–hati banyak anak kecil, terimakasih.
|
Terimakasih
|
Lingkungan dimana kalimat itu muncul. Misal lokasi tersebut merupakan perkampungan atau ada sekolahan atau biasanya muncul pada suatu jalan atau gang, walau pada saat kita melewati tempat tersebut tidak ada anak yang lalu lalang di jalan tersebut. Namun, ketika melawati jalan itu kita dihimbau untuk tetap berhati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraan.
|
Daftar Pustaka:
Kridalaksana, Harimurti. 2011. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar