MODEL & PENERAPAN ANALISIS WACANA OLEH TEUN VAN DIJK
Model & Penerapan Analisis Wacana Oleh Teun Van Dijk
Van Dijk mengemukakan analisis wacana adalah bangun teoretis yang abstrak. Dengan begitu, wacana belum dapat dilihat sebagai perwujudan fisik bahasa. Adapun perwujudan bahasa adalah teks (Badara, 2013: 16). Dari sekian banyak analisis kritik wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh beberapa ahli model Van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Hal ini kemungkinan karena Van Dijk mengkolaborasikan elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis. Model Van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi social”. Nama pendekatan ini tidak dapat dilepasakan Van Dijk.
Menurut Van Dijk penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanyalah hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Dalam hal ini harus dilihat bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bsia semacam itu. Jika adanya teks yang memarginalisasikan perempuan dibutuhkan, maka mutu penelitian yang akan melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks itu memarginalkan perempuan.
Proses produksi dan pendekatan ini sangat khas Van Dijk, yang melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial. Istilah ini diadopsi dari pendekatan dalam ilmu psikologi social, terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks, suatu teks yang cenderung memarginalisasikan posisi perempuan, misalnya muncul karena kognisi atau kesadaran mental diantara penulis, bahkan kesadaran masyarakat yangmemandang perempuan secara rendah, sehingga teks disini hanya merupakan bagian terkecil saja dari praktek wacana yang merendahkan perempuan.
Pendekatan yang dikenal sebagai konjungsi social ini membantu menentukan bagaimana produksi teks yang melibatkan proses yang kompleks tersebut dapat dipelajari dan dijelaskan.Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktek wacana. Teks ini ada dua bagian, yaitu teks mikro yang mempresentasikan marginalisasi terhadap perempuan dalam berita, dan elemen besar berupa struktur social tersebut dengan elemen wacana yang makro dengan sebuah dimensi yang dinamakan kognisi social. Untuk menggambarkan modelnya tersebut, Van Dijk membuat banyak sekali studi analisis pemberitaan media.
Titik perhatian Van Dijk terutama pada studi mengenai rasialisme. Banyak sekali rasialisme yang diwujudkan dan diekspresikan melalui tulisan. Contohnya dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, wawancara kerja , rapat guru, debat di parlemen, propaganda politik, periklanan, artikel ilmiah, editorial, berita, foto, film, dan lain-lain. Dari berbagai teks tersebut kelompok bawah digambarkan secara buruk, kelompok minoritas juga digambarkan tidak sebagaimana mestinya, yang dinyatakan dengan cara yang meyakinkan, nampak sebagai kewajaran, masuk akal, alamiah, dan terlihat sah.
Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Van Dijk menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut kedalam suatu kesatuan analisis. Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu berita. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro. Ini merupakan makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.
Komentar
Posting Komentar