PIRANTI KOHESI & KOHERENSI

Piranti Kohesi & Koherensi

Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh (Mulyana, 2005: 26). Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30). Piranti Kohesi dibedakan atas aspek gramatikal dan aspek leksikal.
Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi: (1) pengacuan (reference),  (2) pelesapan (ellipsis), (3) perangkaian (conjuction).
1. Pengacuan (Referensi)
Secara tradisional referensi berarti berhubungan antara kata dengan benda. Lyons (dalam Brown dan Yule, 1996:28) mengatakan bahwa ‘hubungan ada antara kata-kata dan barang-barang adalah hubungan referensi: kata-kata mengacu pada (refer to) barang-barang’. Pandangan tradisional ini terus dinyatakan dalam penyelidikan-penyelidikan bahasa (misalnya semantik leksikal) yang mendeskripsikan hubungan antara suatu bahasa tertentu dan dunia, tanpa hadirnya pemakai-pemakai bahasa. Namun Lyons dalam keterangan yang lebih belakang ini mengenai sifat referensi, mengemukakan hal yang berikut: ‘penuturlah yang mengacu (dengan menggunakan suatu ungkapan yang sesuai): Lyons menerapkan ungkapan itu pada referensi dengan perbuatan mengacu (reffering)’. Tepatnya, pendangan mengenai sifat referensi yang terakhir inilah yang harus dianut penganalisis wacana.
Berdasarkan tempatnya pengacuan dibedakan menjadi dua jenis: (1) pengacuan endofora apabila acuannya (satuan lingual yang diacu) berada atau terdapat di dalam teks wacana itu, dan (2) pengacuan eksofora apabila acuannya berada atau terdapat di luar teks wacana. Pengacuan endofora berdasarkan arah pengacuannya dibedakan menjadi dua jenis lagi, yaitu pengacuan anaforis dan pengacuan kataforis (Halliday dan Hasan dalam Sumarlam 2003:23-24).
Pengacuan anaforis adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu anteseden di sebelaj kiri, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Sementara itu, pengacuan kataforis merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mengikutinya, atau mengacu anteseden di sebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang baru disebutkan kemudian. Satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain ini dapat berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan yang berfungsi membandingkan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya).
Dengan demikian, menurut Sumarlam (2003:24) jenis kohesi gramatikal pengacuan ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:
a) Pengacuan Persona. Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina  (kata ganti orang), yang meliputi persona pertama, kedua, dan ketiga maupun jamak.
b) Pengacuan Demonstratif. Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina demonstratif tempat (lokasional).
c) Pengacuan Komparatif. Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya.

2. Pelepasan (Elipsis)
Pelepasan (elipsis) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelepasan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Contohnya:
Budi seketika itu terbangun. Ø menutupi matanya karena silau, Ø mengusap muka dengan saputangannya, lalu Ø bertanya, “Di mana ini?”
3. Perangkaian (Konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu, misalnya alinea dengan pemarkah lanjutan, dan topik pembicaraan dengan pemarkah alih topik atau pemarkah disjungtif.

Aspek leksikal atau kohesi leksikal ialah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis (Sumarlam, 2003:34). Aspek leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam. Akan tetapi dalam penelitian ini hanya menggunakan empat dari enam macam aspek leksikal tersebut, yaitu:
1. Repetisi (Pengulangan)
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, repetisi dapat dibedakan menjadi delapan macam, yaitu:
a) Repetisi Epizeuksis. Repetisi epizeuksis ialah pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beebrapa kali secara berturut-turut. Contoh repetisi epizeuksis: Sebagai seorang beriman, berdoalah selagi ada kesempatan, selagi diberi kesehatan, dan selagi diberi umur panjang. Berdoa wajib bagi manusia.
b) Repetisi Tautotes. Repetisi tautotis ialah pengulangan satuan lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Contoh: Aku dan dia terpaksa harus tinggal berjauhan, tetapi aku sangat mempercayai dia, dia pun sangat mempercayai aku. Aku dan dia saling mempercayai.
c) Repetisi Anafora. Repetisi anafora adalah pengulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap atau kalimat berikutnya. Contoh: Bukan nafsu, Bukan wajahmu, Bukan kakimu, Bukan tubuhmu, Aku mencintaimu karena hatimu.
d) Repetisi Epistrofa. Repetisi epistrofa ialah pengulangan satuan lingual kata/frasa pada akhir baris (dalam puisi) atau akhir kalimat (dalam prosa) secara berturut-turut. Contoh: Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari, adalah puisi. Udara yang kauhirup, air yang kauteguki, adalah puisi.Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli, adalah puisi. Gubug yang kauratapi, gedung yang kautinggali, adalah puisi.
e) Repetisi Simploke. Repetisi simploke ialah pengulangan satuan lingual pada awal dan akhir beberapa baris/kalimat berturut-turut. Contoh: Kamu bilang hidup ini brengsek. Biarin. Kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Biarin.
f) Repetisi Mesodiplosis. Repetisi mesodiplosis adalah pengulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut. Contoh: Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon. Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng.
g) Repetisi Epanalepsis. Repetisi epanalepsis ialah pengulangan satuan lingual, yang kata/frasa terakhir dari baris atau kalimat itu merupakan pengulangan kata/frasa pertama. Contoh: Minta maaflah kepadanya sebelum dia datang minta maaf. Kamu mengalah bukan berarti dia mengalahkan kamu.
h) Repetisi Anadiplosis. Repetisi anadiplosis ialah pengulangan kata/frasa terakhir dari baris/kalimat itu menjadi kata/frasa pertama pada baris/kalimat berikutnya. Contoh: Dalam hidup ada tujuan Tujuan dicapai dengan usaha Usaha disertai harapan
2. Sinonimi (Padan Kata)
Sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain (Abdul Chaer, 1994:85). Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal yang mendukung kepaduan wacana dan berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana.
3. Kolokasi
Suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain, biasanya diasosiasikan sebagai kesatuan. Contoh: UUD 1945 dan Pancasila. Ada ikan ada air.

Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk menginterpretasikan tindakan ilokusinya dalam membentuk sebuah wacana. Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan.
Contoh:
Guntur kembali bergema dan hujan menderas lebih hebat lagi. (b) Hati Darsa makin kecut. Biarpun tidak terdapat pemerkah hubungan yang jelas antara kalimat (a) dan (b), tiap pembaca akan menafsirkan makna kalimat (b) mengikuti kalimat (a). Pembaca mengandaikan adanya ‘hubungan semantik’ antara kalimat-kalimat itu, biarpun tidak terdapat pemerkah eksplisit yang menyatakan hubungan seperti itu.
Berikut ini adalah contoh wacana yang mempunyai koherensi baik, tetapi tidak tampak hubungan kohesifnya.
A: “ada telepon.”
B: “saya sedang mandi.”
C: “baiklah.”
Widdowson (1979).
Sebagai sebuah wacana, contoh percakapan di atas tidak dapat pemerkah kohesif. Untuk memahami tuturan tersebut, kita harus menggunakan informasi yang terkandung di dalam ujaran-ujaran yang di ungkapkan dan juga sesuatu yang lain yang dilibatkan dalam penafsiran wacana itu. Percakapan semacam itu akan dapat dipahami dengan baik melalui tindakan-tindakan konvensional yang dilakukan oleh partisipan dalam percakapan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

PRASARAT WACANA