PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR, INFERENSI & DIEKSIS

Praanggapan (Presupposition), Implikatur, Inferensi & Dieksis

Di dalam sebuah wacana juga terdapat banyak kajian yang dibahas. Misalnya, praanggapan, implikatur, inferensi dan dieksis. Apakah itu praanggapan, implikatur, inferensi dan dieksis? Semua akan dibahas dalam uraian berikut agar lebih memberikan pemahaman tentang wacana dan juga unsur yang membentuk wacana tersebut. Praanggapan memegang peranan penting di dalam menetapkan keruntutan (koherensi) wacana. Menurut Filmore dalam Rani (2006:168), dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkat-tingkat komunikasi yang implisit atau praanggapan dan eksplisit atau ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak relevan atau salah bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan peristiwa yang salah pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat praanggapan yang salah.
Praanggapan adalah sesuatu yang dijadikan oleh si penutur sebagai dasar penuturnya (Rani, 2006:170). Dalam menafsirkan kalimat-kalimat yang tidak berterima, pengertian praanggapan sangat berguna meskipun kalimat itu benar secara gramatikal dilihat dari segi strukturnya. Kalimat seperti : Mobil itu sakit adalah kalimat tidak berterima meskipun hal itu benar dipandang dari segi strukturnya. Yang dapat diterima adalah ujaran : Orang itu sakit. Alasan untuk menerima ujaran tersebut adalah kita menerima praanggapanbahwa hanya yang bernyawa atau hidup yang dapat sakit. Akan tetapi, masalah ketidakberterimaan itu masih dapat dipecahkan dalam ujaran yang sebenarnya dengan cara interpretasi metaforik. Contoh ujaran : Gunung berapi itu sedang batuk-batuk  sebenarnya makhluk yang dapat batuk-batuk hanyalah makhluk yang bernyawa. Karena alasan metaforik, kalimat tersebut berterima dikutip dari pendapatnya Sauren dalam Rani (2006:169).
Konsep implikatur dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memecahkan persoalan bahas ayang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakaiuntuk memperhitungkan apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule). contoh kalau ada ujaran panas disini bukan? Maka secara implisit penutur menghendaki agar mesin pendingin dihidupkan atau jendela dibuka. Dalam kegiatan berbahasa sehari-hari kita dapat memahami ujaran yang disampaikan oleh mitra tutur kita. Menurut Chomsky dalam Rani (2006:176) kemampuan yang dapat kita melakukan itu adalah penguasaan kita terhadpkaidah bahasa secara intuitif ujaran yang diucapkan mitra tutur kita  itu apik atau tidak apik mampu mempertimbangkan fakta sintaksis bahasa yang digunakann kaidah itu oleh Chomsky disebut kompetensi linguitik. Kompetensi linguistik seorang penutur itu terbatas temaruk seorag ahli bahasa. Seorang penutur hampir semua tidak menguasai bahasanya karena bahasa itu bersifat kompleks dan kreatif Clark dan Clark dalam Rani (2006:176). implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Menggunakan implikatur dalam berkomunikasi berarti menyatakan sesuatu secara tidak langsung.
Inferensi atau penarikan simpulan dikatakan oleh Gumperz (Rani, 2006: 183) sabagai proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. Dengan inferensi, pendengar menduga kemauan penutur dan, dengan itu pula, pendengar meresponsnya. Dengan begitu, inferensi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata pendukung ujaran, malainkan juga didukung oleh konteks dan situasi. Sering terjadi apa yang dimaksud penutur tidak sama dengan apa yang dianggap oleh pendengar sehingga terkadang jawaban si pendengar tidak dapat merespons balik atau sering juga terjadi si penutur mengulang kambali ujarannya dengan cara atau kalimat yang lain supaya dapat ditanggapi pendengar. Mungkin, apa yang dimkasud penutur tidak dapat ditanggapai pendengar seluruhnya. Gagasan yang ada dalam otak penutur direalisasikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Kalau tidak pandai-pandai menyusun kalimat atau tidak pendai-pandai menanggapinya maka akan terjadi kesalahpahaman.
Dieksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitan erat dengan konteks penutur (Kushartanti, 2009: 111). Contoh:
Besok saya akan menunggu kamu disini.
Didalam ujaran tersebut, kata saya merujuk pada seseorang yang mengucapkan kalimat itu dan bukan diri kita sendiri. Kata besok merujuk pada hari sesudah hari tersebut diucapkannya ujaran. Disini merujuk pada tempat sipenutur. Semua hal itu berkaitan dengan dieksis. Ada tiga jenis dieksis, yaitu dieksis ruang, dieksis persona dan dieksis waktu. Ketiga jenis dieksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada didalam konteks yang sama (Kushartanti, 2009:111).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

PRASARAT WACANA